Minggu, 02 September 2012

Seismograf

Kamu tentu telah membaca dan mendengar tentang kota-kota di Jawa Barat atau di beberapa wilayah di Sumatera Barat dan Jambi yang hancur dan ratusan orang meninggal akibat gempa bumi. Mungkin kamu tidak merasakannya, tetapi tidak jauh dari tempatmu, di sebuah kota besar atau di sebuah universitas, kemungkinan besar para ilmuwan membuat catatan yang lengkap dan tepat mengenai gempa bumi itu. Mereka merasakannya melalui alat-alat mereka yang disebut dengan seismograph.
Seismograf adalah sebuah alat untuk mengukur dan mencatat gerakan tanah secara terus menerus. Gerakan/getaran tanah yang tercatat pada seismograph baik yang terasa maupun yang tidak terasa dalam istilah seismologi/geofisika disebut gempa bumi. Sedangkan hasil catatan/rekaman pada seismograph di sebut seismogram.

Seismograf terdiri dari gantungan pemberat dan ujung lancip seperti pensil. Dengan begitu, dapat diketahui kekuatan dan arah gempa lewat gambaran gerakan bumi yang dicatat dalam bentuk seismogram.

Sebenarnya, bagaimana sih sebuah seismograph dapat merekam dan mencatat terjadinya gempa bumi? Jadi begini, permukaan bumi terdiri dari suatu patahan-patahan di mana patahan-patahan itu bisa saling bergesekan atau bergerak dan menimbulkan gempa bumi. Energi dari gesekan ini kemudian diubah menjadi getaran. Nah, getaran-getaran inilah yang kemudian terekam oleh seismograph dan diterjemahkan berupa garis-garis bergelombang pada seismogram. Kemudian garis tersebut diukur dan dihitung untuk mengetahui besarnya gempa bumi.

Untuk mengetahui berapa besarnya gempa yang terjadi digunakan Skala Richter. Sedangkan untuk menunjukkan seberapa sering terjadinya gempa, atau pengaruh gempa terhadap tanah, gedung, dan manusia menggunakan Skala Mercalli.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar