Kamis, 17 Januari 2013

Pengetahuan

Kota Cerdas: Empat Prakarsa Berbasis IT untuk Jakarta Lebih Baik



Jakarta kian sesak. Penduduk makin banyak, akibatnya ruang yang tersedia makin terbatas. Nah, sebagai jalan keluar, bagaimana jika Anda berbagi ruang yang Anda miliki dengan orang lain? Dengan bantuan teknologi informasi, Anda dapat mengumumkan ketersediaan ruang yang Anda punya — sehingga masyarakat dapat mengetahui dan memanfaatkan ruang itu.

Prakarsa itulah yang ditawarkan Robin Hartanto melalui proposal “Berbagi Ruang”. Robin bercita-cita “Berbagi Ruang” dapat menjadi alat yang tak sekadar meladeni pasar transaksi ekonomis, tapi juga sosial. Prinsip berbagi ruang ini dapat mengurangi dampak lingkungan secara signifikan. Dengan lebih banyak berbagi, warga Jakarta tidak perlu menambah banyak ruang baru. Dalam kondisi banjir, misalnya, orang bisa berbagi ruang bagi para korban. Ini tentu lebih manusiawi ketimbang para korban itu berteduh di tenda-tenda sementara.
 

Skema berbagi ruang karya Robin Hartanto
Proposal “Berbagi Ruang” adalah salah satu dari empat prakarsa berbasis teknologi informasi yang mengemuka di lokakarya “Smart City: Smart Citizen + Smart Process” yang diselenggarakan Rujak Center for Urban Studies dan Aedes Architectural Forum, Berlin. Lokakarya itu berlangsung di Museum Mandiri, Jakarta, 3-12 Januari 2013. Nantinya, empat prakarsa itu akan diboyong ke pameran “Smart City, The Next Generation” di Berlin pada Mei-Juli 2013.

Selain “Berbagi Ruang”, ada pula proposal bertajuk “Jakarta 14%” karya Fariduddin Atthar. Ini adalah sebuah website yang mendaftarkan prakarsa warga Jakarta yang ingin menghijaukan halaman kerasnya, agar kinerja ekologis lebih tinggi. Pendaftaran ini akan otomatis tercatat ke dalam mesin hitung, yang lalu akan memberitahukan berapa luas total ruang terbuka yang terwujud di Jakarta — lengkap dengan jumlah karbondioksida yang berhasil dikurangi!
 

"Bongkar" halaman Anda, jadikan lahan hijau. Ilustrasi untuk "Jakarta 14%" karya Atthar.
Bayangkan bila “Berbagi Ruang” dan “Jakarta 14%” berkolaborasi. Halaman yang telah dihijaukan dapat dibagi, dimanfaatkan bersama, oleh sesama untuk bercocok tanam, atau ruang bersama bagi komunitas. Di sisi lain, target ruang terbuka Jakarta sebesar 14 persen pun lebih mudah tercapai.

Ada pula aplikasi “Steady Family” mengenai pendidikan bencana. Target utama app ini memang bukan mereka yang tengah mengalami bencana — mengingat kesulitan sambungan internet atau bahkan listrik. Tetapi siapa tahu, justru dalam kondisi bencana, para korban memerlukan juga permainan-permainan yang menghibur yang ada di app ini.

 

Salah satu fitur pada "Steady Family" karya Rofi: pendidikan kebencanaan untuk anak.
Muhammad “Rofi” Fatchurofi, pengusul app ini, ingin nantinya ada fasilitas menulis blog tempat para korban bercerita mengenai pengalaman mereka menghadapi bencana. Ada pula berbagai fitur informasi, peringatan dini, dan hal-hal lain seputar bencana yang disampaikan dengan grafis menarik, interaktif, dan menghibur. Rofi bilang, “Banjir memiliki target pasar baru, yakni kelas menengah Indonesia yang juga pengguna gadget terbesar.”

Prakarsa yang keempat, website “Jakarta Besok” karya Mochamad Hasrul Indrabakti, membungkus semua hasil lokakarya. Tugas website ini adalah mendaftar dan memantau semua prakarsa dan mimpi warga. Website ini akan mempunyai bentang waktu untuk menerakan harapan kapan gagasan/mimpi itu ingin dicapai, serta kapan benar-benar tercapai.

Mesin ini juga akan memuat rencana-rencana dan banyak studi yang sudah dilakukan pemerintah, LSM, dan berbagai pihak, yang kadang nilainya mencapai jutaan dolar, seperti misalnya tumpukan studi transportasi Jabodetabek selama 30 tahun terakhir. Banyak studi ini memberikan rekomendasi yang sering selama ini tersembunyi dari mata rakyat, karena dianggap birokrasi tidak penting, tidak realistis, atau tidak disukai karena keterbatasan imajinasi mereka.

 

JakartABesok.com karya Hasrul
Menampilkan mimpi ke halaman publik adalah penting untuk memperbesar kemungkinan mimpi itu terwujud. Mimpi yang disembunyikan sebagai mimpi pribadi sering berbahaya atau tidak menjadi apa-apa. Mimpi yang dibagi di ruang publik akan berpotensi menjadi "mimpi bersama" yang terjaga integritasnya, dan lebih dapat terlaksana menjadi kenyataan.

Mesin ini dapat juga berperan sebagai alat pemantau dan pengingat kita semua tentang kinerja pemerintah dan berbagai pihak dalam masyarakat. Ada tombol untuk “Amin” dan “Wooo” bagi pembaca menyatakan pendapatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar