Kamis, 17 Januari 2013

Berita

Rakyat Suriah Harapkan Tahun yang Lebih Baik


Damaskus (ANTARA/Xinhua-OANA) - Tak seperti Malam Tahun Baru sebelumnya, saat warga Damaskus biasanya berkumpul di jalan-jalan Ibu Kota Suriah itu untuk menyambut kedatangan Tahun Baru, mereka kini memilih berdiam di rumah dengan hanya memakai piyama dan "nongkrong" di depan TV.

Pada masa lalu warga Damaskus turun ke jalan sementara kembang api dengan berbagai bentuk dan warna berpijar di udara dan suara bising perayaan bergema hingga fajar. Tapi sekarang mereka lebih suka duduk di depan TV dan menyaksikan celoteh para peramal dengan harapan bisa mendengar kabar positif tentang negara mereka dan menghilangkan kegelapan --yang telah menggerayangi dada mereka selama lebih dari 22 bulan.

Menyaksikan ahli nujum di TV Arab pada Malam Tahun Baru sudah menjadi tradisi di kalangan jutaan orang wilayah tersebut, termasuk rakyat Suriah. Namun tahun ini berbeda, sebab rakyat Suriah ingin mendengarkan kata-kata peramal sebab mereka tahu negara mereka akan menarik kebanyakan perkiraan itu, kata Xinhua --yang dipantau ANTARA di Jakarta, Selasa pagi.

Kebanyakan peramal tersebut telah mengatakan krisis Suriah takkan berakhir pada tahun baru, dan mengatakan mereka "melihat Presiden Bashar al-Assad takkan hilang dari gambar pada 2013". Perkiraan Tahun Baru juga menyatakan Bashar akan bertahan di tampuk kekuasaan. Mike Fighali, peramal sangat kondang Lehanon, memperkirakan Bashar akan mempertahankan kekuasaannya pada tahun 2013, dan menambahkan pemimpin yang dirongrong kemelut tersebut takkan menyerahkan negaranya kepada "massa yang amburadul" kalaupun ia memutuskan untuk pergi.


Namun, Fighali mengatakan krisis di Suriah akan berkecamuk terus pada tahun yang baru. Ia malah mengatakan banyak negara Arab justru akan jatuh lebih dulu dibandingkan dengan Suriah.
Ramalan itu mungkin telah menjadi sumber rasa lega bagi mereka yang mendukung pemerintah Bashar, tapi bisa meningkatkan kemarahan para penentang Presiden Suriah tersebut.

Malam Tahun Baru sekali ini berbeda dibandingkan dengan yang pernah dikenal rakyat Suriah sebab tak ada acara perayaan, tak ada kegiatan apa pun, dan yang paling penting, tak ada orang yang jalan-jalan akibat situasi keamanan. Rakyat khawatir terhadap kemungkinan pemboman dan kekacauan saat tengah malam.

Dua tahun lalu, Suriah memiliki Pohon Natal paling tinggi di dunia yang dipindahkan dari satu provinsi ke provinsi lain dalam tindakan yang memperlihatkan hubungan kekerabatan di antara semua lapisan masyarakat. Namun tahun ini berbeda. "Kami tak berhasrat untuk merayakan Tahun Baru. Kami bahkan tak menghiasi Pohon Natal kami," kata Kinda perempuan Suriah yang berusia 27 tahun. "Kalau saja kami bisa kembali ke masa tiga tahun lalu sehingga kami bisa menikmati Suriah kami," katanya.


Ia menambahkan sekalipun ia tak percaya pada ucapan peramal, tapi "itu lebih baik ketimbang tidak melakukan apa-apa, sebab tak ada perayaan di luar rumah".
Pacar Kinda --Firas-- juga mengharapkan tahun yang lebih baik buat Suriah dan "pembunuhan serta pengrusakan akan berhenti".

Rakyat Suriah pada umumnya masih dilanda rasa terkejut sebab krisis di negeri mereka memasuki tahun ketiga, sebab konflik semacam itu dulu tak pernah terpikirkan dan masih jauh dari akhir sekalipun utusan khusus PBB-Liga Arab Lakhdar Brahimi melancarkan berbagai upaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar